ITS Kembangkan i-nose c-19, Detektor Corona Via Bau Keringat Ketiak, Hasilnya Keluar Hanya 3,5 Menit Saja
![]() |
| ITS kembangkan i-nose c-19, detektor corona via bau keringat ketiak, hasilnya keluar hanya 3,5 menit saja. (Source:its.ac.id) |
Ulas Gadget - Jika UGM memiliki GeNose, yakni alat pendeteksi corona
dengan menghembuskan nafas ke tabung khusus. Lain halnya dengan ITS yang
mengembangkan i-nose c19 yakni deteksi corona atau COVID-19 melalui bau
keringat ketiak.
Dikutip dari laman its.ac.id,
i-nose c-19 merupakan alat screening corona atau COVID-19 pertama di
dunia yang mendeteksi virus corona melalui bau keringat ketiak (axillary
sweat odor).
i-nose c-19 bekerja dengan cara mengambil sampel
dari bau keringat ketiak seseorang dan memprosesnya menggunakan
artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.
“Keringat
ketiak adalah non-infectious, yang berarti limbah maupun udara buangan
i-nose c-19 tidak mengandung virus Covid-19,” kata guru besar Institut
Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Drs Ec Ir Riyanarto Sarno MSc PhD,
seperti dikutip Ulas Gadget dari its.ac.id.
Alat ini memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan teknologi screening corona atau COVID-19 lainnya.
Sampling
dan proses berada dalam satu alat, sehingga seseorang dapat langsung
melihat hasil screening pada i-nose c-19. Hal ini tentunya menjamin
proses yang lebih cepat.
”i-nose c-19 juga dilengkapi fitur
near-field communication (NFC), sehingga pengisian data cukup dengan
menempelkan e-KTP pada alat deteksi cepat Covid-19 ini,” jelasnya.
Keunggulan
lainnya yakni penyimpanan datanya jauh lebih handal karena telah
menggunakan cloud computing yang terintegrasi dengan publik, pasien,
dokter, rumah sakit dan laboratorium.
”Dengan berbagai kelebihan
yang ada, i-nose c-19, karya anak bangsa, hadir untuk menjawab tantangan
pandemi COVID-19 yang belum terkendali,” ujarnya.
Selain
berbiaya murah karena menggunakan komponen teknologi yang murah, dalam
hal pengoperasian alat i-nose c-19 pun tidak perlu keahlian khusus.
"Scanner
ini dapat dilakukan oleh semua orang dengan perangkat pengaman yang
lebih sederhana yakni hanya sarung tangan dan masker sebagai
perlindungan dasar," ungkapnya.
Menurut Ryan, i-nose c-19
merupakan hasil penelitian selama empat tahun dan kemudian dioptimalkan
dengan menyesuaikan virus corona atau COVID-19. Saat ini i-nose c-19
sudah memasuki tahap satu uji klinis.
“Ke depannya akan
ditingkatkan lagi data sampling-nya untuk izin edar dan dapat
dikomersialkan ke masyarakat,” ujar dosen Teknik Informatika ITS ini.
Mengingat
peningkatan penyebaran virus corona di dunia yang membutuhkan banyak
teknologi screening yang mudah dan cepat diimplementasikan. Ryan
berharap i-nose c-19 ini dapat segera dikomersialisasikan dalam waktu
maksimal tiga bulan ke depan.***
Reviewed by admin
on
Maret 19, 2021
Rating:

Tidak ada komentar: